Tampilkan postingan dengan label Lee Jonghyun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lee Jonghyun. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juni 2013

Is She Really The Right One, Jonghyun-ssi?

Diposting oleh Rachma I. Lestari 0 komentar
Title: Is She Really the Right One, Jonghyun-ssi?
Author:  Rachma Lestari
Rating: G
Genre: Romance, Humor
Length: Ficlet
Main Cast:
Lee Jonghyun CNBLUE
Other Cast:
Jung Yonghwa CNBLUE
Im Yoona SNSD

Disclaimer: Naskah yang author ikut sertakan di lomba #kpopkoplak, sayang gak menang :’( Jadi, daripada mubadzir, author post deh. ^^ Terinspirasi dari cerita author sendiri, yang dulu pernah naksir orang, tau namanya doang, tapi ternyata salah nemu fbnya. (yakali namanya cuman satu orang yang punya) :p


Is She Really The Right One, Jonghyun-ssi?



            Jam dinding di ruangan ini menunjukkan pukul 14.45. Waktu hanya tersisa 15 menit. Alih-alih memanfaatkan sisa waktu tersebut untuk mengkoreksi semua jawaban ujian bahasa inggris siang itu, Lee Jonghyun justru sedang asyik mengamati seorang perempuan yang duduk tak jauh darinya, hanya terpisahkan 3 meja. Rambutnya panjang terurai sebahu, sambil sesekali disibakkannya beberapa anak rambutnya ke belakang telinganya. Kepalanya menunduk, masih mengerjakan soal-soal yang disajikan di dua lembar kertas bolak-balik itu. Kulitnya putih, seperti kebanyakan orang Korea pada umumnya. Postur tubuhnya bagus, cenderung ke arah kurus menurut Jonghyun. Perempuan itu memakai kemeja polos berwarna biru muda, yang kebetulan merupakan warna kesukaan Jonghyun. Well, karena nama band-nya sendiri juga menggunakan nama warna itu. CN BLUE.
            “Waktu ujian kurang 5 menit lagi. Pastikan lagi jawaban kalian di lembar jawaban dan data diri kalian. Jika ada yang sudah selesai, silahkan kumpulkan lembar jawaban dan soal kalian ke saya,” ucap Ibu pengawas ujian ruangan ini.
            Jonghyun memutuskan untuk mengumpulkan lembar jawaban tersebut, diiringi tatapan kagum dari sebagian besar orang yang ada di ruangan itu. Sebagian kecilnya menggerutu tidak jelas. Sisanya tetap sibuk dengan soal-soal di hadapannya, seperti perempuan tadi.
            Jonghyun menunggu Yonghwa-hyung, yang juga mengambil tes bahasa inggris siang ini. Yonghwa-hyung berada di kelas sebelah. Hyung itu ‘kan lancar berbahasa inggris. Seharusnya dia bisa keluar dari tadi. Ah, hyung memang suka merendah diri di hadapan orang lain.
            Lima menit berlalu dan dengan cepat, lorong yang awalnya hanya terisi Jonghyun, segera penuh sesak oleh orang-orang yang baru selesai menyelesaikan ujian.
            “Hyung!” teriak Jonghyun memanggil Yonghwa yang baru saja keluar dari kelasnya.
            Yonghwa segera menghampirinya.
            “Ayo, manajer baru saja menghubungiku agar kita cepat kembali ke mobil,” ucap Yonghwa seraya menunjukkan ponselnya.
            “Eh, tapi…”
            Jonghyun tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena tangannya sudah terlebih dulu ditarik Yonghwa menuju ke area parkir mobil. Selama perjalanan, semua mata tak lepas dari kedua bintang besar itu. Yonghwa tersenyum ke semua orang sambil sesekali membungkukkan badannya. Jonghyun melakukan hal yang sama tapi dia berharap perempuan yang diperhatikannya di kelas tadi tertangkap matanya.
            Aha!
            “Hyung, hyung. Tunggu.”
            Yonghwa berhenti dan menatap Jonghyun bingung.
            “Apa?”
            “Itu itu. Perempuan itu. Kau tau siapa dia?”
            Yonghwa mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Jonghyun. Dilihatnya seorang perempuan berkemeja biru dan tas selempang berwarna merah di bahunya.
            “Yoona?”
            “Yoona? Kamu kenal, hyung?”
            “Aku pernah sekelas dengannya di kelas seni setahun yang lalu.”
            Jonghyun mengangguk-anggukkan kepalanya.
            “Kau naksir, ya?”
            “Oh, itu. Emh…,” Jonghyun terbata-bata sambil menggaruk rambutnya.
            Drrt…drrt…
            Keduanya melihat ponsel Yonghwa yang bergetar. Manajer-hyungnim.
            “YA! Ayo cepat!”
            Yonghwa berlari cepat menuju mobil van berwarna hitam di area parkir, dan manajer mereka sudah berkacak pinggang di depannya. Mobil van mereka tampak menonjol karena rata-rata orang-orang di kampus menggunakan mobil sedan, bukan mobil besar seperti itu.
            “Siapa nama lengkapnya, hyung?” tanya Jonghyun di belakang Yonghwa.
            “Im Yoona!” teriak Yonghwa.
            Jonghyun tersenyum.
            Im Yoona.

***

            “Permisi…”
            Jonghyun membuka pintu ruang administrasi kampusnya. Hanya segelintir orang yang masih tinggal setelah berakhirnya jam kerja sekitar setengah jam yang lalu.
            Seorang perempuan yang tampaknya seusia ibu Jonghyun melongok dari kubikelnya. Tampang juteknya segera terpasang, tapi segera luluh tergantikan senyum manis saat melihat siapa pemilik suara yang memanggilnya barusan.
            “Lee Jonghyun? Ada apa?” tanyanya sambil memamerkan lipstick merah menyalanya di senyumannya.
            Jonghyun tersenyum.
            “Saya mau melihat data diri siswa yang ada di kelas ujian saya kemarin. Bisa?”
            Ibu tersebut tampak bimbang. Namun karena Jonghyun memasang wajah memelasnya, yang seharusnya tanpa dia berakting pun Ibu itu pasti akan memberikannya dengan sukarela.
            “Sebentar ya, saya cari dulu. Kalau boleh tau, kelas ujian apa dan hari apa ya?”
            “Hari Rabu minggu lalu, Bu. Ruang 204, kelas ujian Bahasa Inggris,” jawab Jonghyun lengkap.
            Jonghyun menunggu sekitar dua menit sampai akhirnya Ibu tersebut memberikan dokumen data diri siswa di kelasnya.
            “Memangnya untuk keperluan apa, Lee Jonghyun?”
            Jonghyun sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan seperti ini.
            “Kemarin saya meminjam pensil dan penghapus salah seorang siswa di sana, Bu. Tapi karena saya harus segera kembali ke mobil saat ujian berakhir, saya tidak sempat mengembalikannya.
            Ibu tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti.
            “Wah, kamu bertanggung jawab sekali, ya. Sudah tampan, pintar, baik pula. Komplit,” timpal Ibu itu.
            Jonghyun tersenyum –ini sudah menjadi kebiasaannya untuk tersenyum pada siapapun-.
            Jonghyun membaca cepat nama-nama yang ada di daftar tersebut. Yoona, Yoona, Yoona. Ah, ketemu!
            Segera dicatatnya alamat rumah Yoona.
            “Terima kasih, Bu. Informasi ini sangat membantu saya,” ucap Jonghyun sambil menyerahkan dokumen tersebut kembali ke Ibu itu.
            “Sama-sama. Jonghyun, boleh minta tanda tangan? Kalau bisa juga sekalian foto bareng,” pinta Ibu itu malu-malu.

***

            Dengkuran Yonghwa terdengar dari balik punggung Jonghyun. Karena padatnya jadwal CNBLUE di akhir minggu kemarin, membuat semua personelnya lelah dan terkapar tak berdaya di tempat tidur masing-masing. Kecuali Jonghyun. Dibukanya kembali kertas kecil bertuliskan alamat rumah Yoona. Kesibukannya kemarin membuatnya baru sempat membaca kembali alamat itu.
            Hmm. Alamat ini tidak salah hanya berjarak beberapa blok dari dorm. Apa sebaiknya aku mengajaknya blind date?
            Jonghyun mengacak-acak rambutnya.
            Ini gila. Aku idola banyak perempuan di Korea. Cukup menunjuk salah satu anggota Boice pun aku sudah bisa mengadakan kencan romantis. Tapi aku malah tak berdaya di hadapan perempuan yang baru sekali kulihat. Ditambah aku mengenalnya hanya sebatas nama dan alamat rumahnya. Mungkin benar, blind date pilihan yang paling tepat. Ingin menyapanya di kampus, tapi aku tak pernah melihatnya. Mungkin dia mengambil mata kuliah yang berbeda denganku. Mata kuliah? Bodoh. Seharusnya kemarin sekalian meminta data kelas yang dia ambil ya? Kenapa aku begitu bodoh seperti ini?
            Jonghyun mengetuk-ketukkan dahinya ke meja.
            Bodoh amat. Aku akan mengajaknya kencan.

***

            Jonghyun menatap cemas pintu coffee shop ini, tempat yang dipilihnya sebagai tempat blind date-nya dengan Yoona. Tiap ada perempuan yang melangkah masuk, diamatinya dengan seksama. Tapi sejak sejam yang lalu dia duduk di mejanya, yang tentu saja terletak di pojok ruangan dengan pencahayaan yang minim, dia tidak melihat tanda-tanda perempuan yang mencarinya. Tanda-tanda seperti ini; masuk ke dalam coffee shop, menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu tersenyum ketika menatap Jonghyun. Yang Jonghyun lihat sedari tadi hanya sampai tanda-tanda kedua. Tidak ada yang tersenyum ke arahnya.
            Apa aku salah mengirim surat? Apa suratnya tidak sampai? Ah, aku kan menggunakan paket kilat. Seharusnya sehari pun sudah sampai, apalagi tempat tinggalnya tidak jauh.
            Krinciiing. Krinciiiing.
            Lonceng yang tergantung di pintu masuk berbunyi, tanda pintu coffee shop terbuka. Perempuan berambut pendek dan tinggi yang juga pendek, melangkah masuk. Dress yang dia pakai pun pendek. Perempuan itu melihat ke kanan dan ke kiri, sedang melakukan penyisiran di ruangan coffee shop ini. Matanya bertemu dengan mata Jonghyun. Perempuan itu tersenyum lebar, sangat lebar hingga Jonghyun bisa melihat gusinya.
            Jonghyun kebingungan. Memang tanda-tanda ini yang dia tunggu sedari tadi. Tapi…dia bukan Yoona.
            “Lee Jonghyun?”
Jonghyun mengangguk ragu.
 “Ya Tuhan, ternyata aku tidak bermimpi. Kamu tahu, aku hampir pingsan saat surat ini tiba di rumah kemarin. Kamu menyukaiku sejak kelas ujian bahasa inggris kemarin? Ah, pantas kemarin punggungku terasa panas. Ternyata sorot matamu yang melakukannya,” ucap perempuan pendek itu panjang lebar dan mengambil tempat di hadapan Jonghyun.
“Tunggu…Kamu Yoona? Kim Yoona?” tanya Jonghyun, memastikan.
Kim Yoona mengangguk.
“Iya, memangnya siapa lagi? Ah, kamu marah ya karna aku terlambat? Maaf, tadi aku harus menyelesaikan pekerjaan rumahku. Maaf membuatmu menunggu,” ucapnya lagi.
Jonghyun menggeleng.
“Tunggu, tapi…Emh, boleh aku lihat surat yang kukirim padamu?”
            Kim Yoona menyerahkan amplop berwarna biru muda. Jonghyun segera membuka dan membaca surat tersebut.
            Dear Kim Yoona.
Aku tahu kamu akan terkejut jika tahu siapa aku, pengirim surat ini. Kamu tahu, kita satu ruang di kelas ujian bahasa inggris kemarin. Kurasa kamu tidak sempat melihatku, karena kamu terlalu fokus dengan soal-soal di hadapanmu.
Dan maafkan perbuatanku yang so-last-year ini. Aku hanya berhasil mendapatkan alamat rumahmu, jadi surat ini satu-satunya caraku untuk menghubungimu. Aku tahu ini terlalu dini, tapi, maukah kamu bertemu denganku besok sore? Aku akan menunggumu di coffee shop ‘coftea’ dekat rumahmu.
Lee Jonghyun
           
            Tidak ada yang salah dari surat ini.
            Jonghyun menatap kembali perempuan di hadapannya.
            Tapi kenapa dia yang datang? Jangan-jangan aku salah mencatat alamat rumahnya!
            Jonghyun menepuk dahinya.
            “Ada yang salah, Jonghyun-ssi?”
            Ada yang salah!
Jonghyun menggeleng.
            “Tidak, tidak ada yang salah. Yoona-ssi, maaf aku harus segera kembali ke dorm. Aku baru ingat malam ini aku ada schedule di tempat lain. Maaf.”
            Jonghyun membungkukkan badannya, lalu segera pergi dari coffee shop itu.
            Maaf, Kim Yoona, atau siapapun kamu. Tapi bukan kamu yang aku maksud.

***

            “Baru sejam lalu kau keluar, dan sekarang sudah balik?”
            Itu komentar Yonghwa yang terucap saat melihat dongsaeng-nya kembali ke dorm.
            “Yoona tidak datang?” tebak Yonghwa.
            Jonghyun menggeleng.
            “Yoona datang, tapi bukan Yoona yang kumaksud. Memang ada berapa nama Kim Yoona sih di kelas?” tanya Jonghyun.
            Yonghwa tersedak saat meneguk minumannya.
            “Kim Yoona?”
            Jonghyun mengangguk.
            Hening, hanya hingar bingar suara TV yang terdengar.
            Tawa Yonghwa meledak, sampai dia pun terguling dari sofa dan terjatuh ke lantai. Yonghwa menghapus airmata yang keluar karena terlalu keras tertawa.
            “Kim Yoona? YA! Namanya Im Yoona!”
            Jonghyun bengong di hadapan Yonghwa, sedangkan Yonghwa melanjutkan tawanya sambil memukul-mukul bantal sofa. Airmatanya mengalir lagi dari sudut matanya. Kelakukan dongsaeng-nya ini benar-benar lucu.
            “Kau hubungi dia lewat ponselku aja. Aku baru ingat aku punya nomornya,” ucap Yonghwa saat dia sedikit bisa mengontrol tawanya.
            “AH HYUNG! KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI KEMARIN???”
            Jonghyun yang hanya bisa diam dengan tampang polosnya pun akhirnya meledak. Yonghwa kembali tertawa.
           
-END-





Selasa, 11 Juni 2013

Find Me, Love

Diposting oleh Rachma I. Lestari 0 komentar
Find Me, Love


                Satu…
                Dua…
                Tiga…
                …
                Seratus sepuluh…
                Seratus sebelas…
                Seratus duabelas…
                …
                Tigaratus duapuluhlima…
                Tigaratus duapuluhenam…
                Hitunganku berhenti. Mata kami bertemu, tapi kemudian dia kembali fokus pada buku di hadapannya. Dibenarkannya kacamata yang bertengger di hidungnya yang mancung, mengerutkan dahinya, mengerucutkan bibirnya, dan akhirnya jemarinya kembali menulis sesuatu di bukunya. Sepertinya tugas kuliah. Well, ini perpustakaan. Memangnya aku mengharapkan dia demo masak di sini?
                “Jonghyun-ah.”
                Yonghwa-hyung baru saja tiba dan mengambil tempat di sampingku.
                “Kau sudah mengerjakan tugasnya sampai mana?”
                Yonghwa-hyung melirik lembaran-lembaran kertas di hadapanku. Kosong.
                “Ya! Dari tadi kamu ngapain aja? Aish…”
                Yonghwa-hyung akhirnya mengambil beberapa kertas di hadapanku.
                “Aku kerjakan lima nomor awal, kamu lima nomor akhir,” perintahnya.
                “Ah, hyung. Mana bisa aku mengerjakan nomor-nomor terakhir? Biasanya justru ‘kan itu yang paling susah.”
                Yonghwa-hyung tersenyum lebar.
                “That’s the point.”
                Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat sikap Yonghwa-hyung yang mengintimidasiku. Apa boleh buat, dia hyung kesayanganku.
                Kulirik lagi perempuan yang hanya berjarak tiga meja dari tempatku duduk. Dia masih serius dengan pekerjaannya. Ah, Lee Jonghyun. Apa yang kau harapkan memangnya? Dia tersenyum padamu? Mengajakmu belajar bersama? Namanya saja kau tak tahu. Ah, dia pun juga tak tahu namamu.

***

                Satu…
                Dua…
                Tiga…
                Empat…
                Seratus tigapuluhtujuh…
                Seratus tigapuluhdelapan…
                Hitunganku berhenti. Dia melihatku untuk yang kedua kalinya. Tapi, lagi-lagi dia seolah tak melihatku yang kini hanya duduk berselisihkan dua meja darinya. Difokuskannya kembali matanya pada buku tulis di hadapannya.
                “Jadi dia yang membuatmu mengusulkan untuk bertemu di perpustakaan lagi?
                Suara Yonghwa-hyung tiba-tiba terdengar dari balik punggungku. Kutoleh dia yang sedang asik tersenyum nakal ke arahku.
                “Ah, hyung. Sejak kapan kau datang?”
                “Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Siapa dia? Kau kenal?” tanya Yonghwa-hyung sambil meletakkan tas punggungnya ke atas meja dan duduk di sampingku.
                Aku menggeleng.
                “Aku tidak tahu. Aku baru melihatnya kemarin.”
                “Lee Jonghyun. Dengan ketampananmu dan tubuhmu yang proposional, belum lagi auramu yang melebihi auraku, kamu dapat dengan mudah berkenalan dengannya.”
                “Dia beda, hyung. Aku bisa merasakannya,” sangkalku.
                Yonghwa-hyung kali ini ikut mengamati perempuan itu.
                “Well, aku tidak bisa merasakannya. Tapi aku bisa merasakan kemarahan Dosen Han jika kita tidak menyelesaikan tugas ini,” ucap Yonghwa-hyung seraya menyerahkan beberapa lembar revision tugas kami kemarin.
                Sempat kulihat lagi perempuan itu, berharap dia akan memperhatikanku lebih dari sedetik. Dua detik pun aku akan bersyukur jika dia melakukannya. Tapi…
                Bug.
                Pukulan pelan Yonghwa-hyung mendarat di kepalaku.

***

                Satu…
                Dua…
                Tiga…
                Lima…
                Duapuluhenam…
                Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Kini aku hanya berselisihkan satu meja dengannya. Dia kembali fokus pada buku di hadapannya. Kali ini dia tidak memegang pulpen atau pensil seperti sebelumnya. Dia hanya membaca sebuah buku yang tebalnya hampir setinggi wedges milik ibuku. Dia melihat lagi ke arahku. Kami tersenyum. Aku bahagia. Dan semoga dia juga bahagia.

***

                Satu…
                Dua…
                “LJH?”
                Sebuah suara yang belum pernah kudengar sebelumnya mengucapkan inisialku. Kami berdua tersenyum.
                “Lee Jonghyun,” ucapku memperkenalkan diri, dan jemari kami bersalaman seraya dia menyebutkan namanya.

***

                Hai, perempuan berkacamata yang selalu serius menatap buku tulisnya.
                326 tangkai bunga mawar ini untukmu.
                326 detik untuk kau menyadari bahwa aku ada di dunia ini.
LJH


                Hai, perempuan berkacamata yang masih serius menuliskan rangkaian kata di buku tulisnya.
                138 tangkai bunga mawar ini untukmu.
138 detik untuk kamu menyadari bahwa aku masih ada di dunia ini, di sekitar bayang-bayangmu.
                Carilah aku. Temukan aku. Aku tak jauh-jauh darimu.
LJH


                Hai, perempuan berkacamata yang tenggelam di balik buku tebalnya.
                26 tangkai bunga mawar ini untukmu.
26 detik untuk kamu menyadari bahwa akulah si pria yang selalu dan masih tetap memperhatikanmu.
                Jangan ragu untuk tersenyum lagi besok.
                Iya, itu aku.
LJH


***

                “Ini untukmu,” ucapku seraya menyerahkan dua tangkai mawar kepadanya.
                “Dua detik? Untuk?” tanyanya sambil tersenyum.
                “Dua detik untuk akhirnya kamu benar-benar menemukanku.”
               
-END-




*note: sengaja tidak memakai nama cast perempuan. kata teman, lebih asik membayangkan diri kita yang ada di posisi itu. <3

Sabtu, 01 Juni 2013

When We Met #1

Diposting oleh Rachma I. Lestari 0 komentar
Author: Rachma Lestari
Starring: Lee Jonghyun, Jung Eunji
Genre: Romance



-chapter 1-

*Jung Eunji*

Semoga proposal ini bisa disetujui nantinya, batin Jung Eunji seraya mendekap erat amplop berisi surat lamaran magangnya di Seoul Broadcasting System (SBS). Eunji segera masuk ke dalam lift sesaat setelah pintunya terbuka. Jarinya menekan tombol lantai 15, lantai dimana dia akan menyerahkan amplopnya. Pintu lift yang sempat menutup, terbuka kembali, dan seorang laki-laki masuk dengan terburu-buru.

“Untunglah,” ucap laki-laki itu.

Eunji mengamatinya, lalu segera mengalihkan pandangannya saat laki-laki itu melihat balik ke arahnya.

Sepertinya aku tahu, tapi dimana ya?

Eunji menggelengkan kepalanya.

Mungkin sebelumnya aku pernah berpapasan dengannya.

Laki-laki itu menekan tombol lantai 16.

Lantai 16? Lantai apa ya? Running Man Office!

Eunji mengamati gerak-gerik laki-laki di sebelahnya melalui siluet yang terpampang di dinding-dinding lift.

Tuhkan, laki-laki ini daritadi mengamatiku terus. Emang ada yang salah dengan dandananku?

Eunji segera memeriksa lagi baju yang dipakai.

Aman, aku tidak memakai bikini kok.

Di lantai 3, pintu lift terbuka dan segerombolan wanita siap menyerbu masuk. Laki-laki itu mulai bergerak ke arah Eunji dan secara tidak langsung memaksa Eunji untuk mundur hingga ke pojok lift. Laki-laki itu menunduk ke wajah Eunji, sampai-sampai Eunji bisa merasakan tiap hembusan nafasnya. Pintu lift menutup, dan sepertinya gerombolan wanita itu akan turun di lantai 10. Eunji melihat salah seorang dari mereka memencet tombol lantai 10.

Laki-laki di hadapan Eunji tampak insecure. Bahkan menurut Eunji, jika laki-laki itu bisa menghilangkan wajahnya, mungkin dia sudah melakukannya dari tadi. Dia sangat menunduk ke bawah, ke arah Eunji lebih tepatnya, hingga anak rambut mereka bertemu.

Ting.

Lantai 10 dan akhirnya gerombolan wanita itu pergi. Laki-laki itu mulai menjauh dari Eunji.

“Mianhamnida,” ucap laki-laki itu pada Eunji.

Eunji tanpa sadar mengangguk dan melongo melihat laki-laki di depannya. Kini Eunji dapat lebih jelas melihatnya. Tingginya mungkin sekitar 180cm, kulitnya putih, dan  rambutnya berwarna cokelat. Kantong matanya terlihat jelas, tanda bahwa laki-laki ini jarang tidur.

Aku yakin aku sangat sering melihat laki-laki ini. Tapi dimana ya? Ah, ingatanku sangat buruk ternyata.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai 15. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya. Eunji masih terus menatap laki-laki itu, tapi tatapannya kosong karena pikirannya sibuk menerawang, mengingat-ingat dan mengutuk betapa buruk ingatannya.

Pintu lift tertutup dan lift melanjutkan perjalanannya ke lantai 16.

“Bukankah seharusnya kamu turun di lantai 15?”

Suara laki-laki itu menyadarkan Eunji dari lamunannya. Reflek, Eunji menepuk dahinya.

“Ah, bodohnya aku.”

Diliriknya lagi laki-laki itu, tapi Eunji segera membuang muka karena terlalu malu.
               
Ting.
               
“Aku turun dulu ya. Sebaiknya kamu juga turun di lantai ini lalu ke lantai 15 melalui tangga. Menurutku lebih cepat,” ucapnya.

Eunji mengangguk dan mengikuti langkahnya keluar lift. Eunji sempat membungkukkan badannya ke arah laki-laki itu sebelum mereka berpisah di persimpangan koridor.
               
“Ya, jonghyun-ah! Kau lama sekali.”
               
Sebuah suara terdengar di belakang punggung Eunji.
               
Jonghyun? Lee Jonghyun CNBLUE?
               
Eunji menepuk dahinya.
               
Aish, aku tidak akan menceritakannya pada unni. Dia pasti akan memarahiku karna tidak meminta tanda tangan idolanya itu. Pantas aku merasa sering melihat laki-laki itu. Ya, melihatnya di dinding kamar kakakku.
               
Saat tiba di pintu lantai 15, Eunji merasakan ada yang hilang dari dekapannya. Amplopnya!
               
“Kurasa kamu tidak sengaja menjatuhkan ini tadi, Eunji-ssi.”
               
Eunji berbalik, dan Jonghyun tersenyum padanya.

“Ini,” ucapnya seraya menyerahkan amplopnya. Jari mereka bersentuhan.
               
Deg.

***

*Lee Jonghyun*
                
“Iya, ini aku sudah di lobby. Ah, hyung. Jangan cerewet, aku akan tiba di sana dalam waktu 5 menit. Lantai 16 kan?”
                
Lee Jonghyun berlari melintasi lobby SBS. Hari ini dia akan bertemu PD Running Man, briefing untuk shooting besok pagi. Kebetulan dia dan Yonghwa diminta untuk menjadi bintang tamunya. Dilihatnya pintu lift akan segera menutup, segera saja dia berlari lebih cepat dan segera menekan tombol buka. Untung saja pintu lift itu kembali terbuka. Dilihatnya, hanya ada satu perempuan di dalamnya.
                
Jonghyun berdiri tepat di sebelah perempuan itu. Perempuan itu cukup tinggi, rambutnya panjang sebahu, dan poninya mengingatkan Jonghyun pada tokoh kartun Dora. Jonghyun reflek tersenyum saat Dora melintas begitu saja di pikirannya.
                
Jonghyun melihat perempuan itu lagi.
                
Perempuan ini pura-pura tidak mengenalku, atau memang dia tidak mengenalku? Setiap orang yang bertemu denganku pasti setidaknya ingin bersalaman denganku atau meminta tanda tangan. Tapi, perempuan ini tidak melakukan apa-apa.
                
Jonghyun berdehem, mencoba menarik perhatian perempuan di sebelahnya. Berhasil, tapi hanya untuk sesaat karena perempuan itu kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
                
Sungguh? Dia mencampakkanku?
                
Pintu lift terbuka di lantai 3. Jonghyun melihat segerombolan wanita akan menyerbunya. Emh, masuk ke dalam lift maksudnya. Tapi, Jonghyun sedang sendiri, tidak bersama manajer atau anak CN BLUE lainnya.
                
Bisa gawat ini.
                
Jonghyun mendekat ke arah perempuan berponi dora di sebelahnya, menundukkan kepalanya.
                
Andai aku bisa menghilangkan wajahku saat ini.
                
Sesekali matanya melirik ke kanan dan kiri, mengawasi apakah ada salah satu dari wanita itu akan mengenalinya. Perempuan di hadapannya sedikit terkejut dengan sikap Jonghyun. Jonghyun dapat merasakan bahwa perempuan itu semakin mempererat pelukannya di amplopnya. Jonghyun semakin mendekatkan tubuhnya ke perempuan itu. Dia bisa merasakan poni doranya, dan Jonghyun lagi-lagi tersenyum saat nama Dora melintas.
                
Ting.
                
Lantai 10 dan akhirnya gerombolan wanita itu keluar. Jonghyun segera menjauh dari perempuan itu.
                
“Mianhamnida,” ucap Jonghyun meminta maaf.
                
Perempuan itu hanya mengangguk, lalu menatap Jonghyun. Jonghyun sempat grogi dilihat secara frontal seperti itu, tapi di akhir Jonghyun sadar bahwa perempuan itu hanya melamun dan pandangannya tepat ea rah Jonghyun.
                
Perempuan ini benar-benar tidak mengenalku. Hebat. Apa dia tidak mempunyai tv? Tidak mempunyai koneksi internet? Apakah tempat tinggalnya jauh dari keramaian?
                
Ting.
                
Pintu lift terbuka di lantai 15. Perempuan itu tidak berkutik, tak menunjukkan tanda-tanda akan turun di lantai ini.
                
Seingatku dia yang memencet lantai 15.
                
Pintu lift menutup kembali dan melanjutkan perjalanannya ke lantai 16.
                
“Bukankah seharusnya kamu turun di lantai 15?” tanya Jonghyun akhirnya, tak tahan dengan keanehan perempuan Dora ini. (Jonghyun akhirnya menjulukinya Dora).
                
Dora seperti tersadar dengan suara Jonghyun, lalu menepuk dahinya.
                
“Ah, bodohnya aku,” ucap Dora.

Ting. Pintu lift terbuka di lantai 16.
                
“Aku turun dulu ya. Sebaiknya kamu juga turun di lantai ini lalu ke lantai 15 melalui tangga. Menurutku lebih cepat,” ucap Jonghyun.
                
Dora hanya mengangguk dan mengikuti langkah Jonghyun keluar dari lift. Mereka pun berpisah di persimpangan koridor, Jonghyun menuju pintu office dan Dora menuju pintu darurat tangga.
                
“Ya, Jonghyun-ah! Kau lama sekali,” ucap Yonghwa saat menyambutnya di depan pintu.
                
Jonghyun hanya terkekeh.
                
“Maaf, hyung.”
                
“Ayo. PD sudah menunggu kita,” ajak Yonghwa.
                
Jonghyun mengangguk.
                
Namun langkah Jonghyun terhenti saat melihat sebuah amplop terjatuh di dekatnya. Diraihnya amplop tersebut, dan tampak jelas nama asli Dora. JUNG EUNJI.
                
Nama yang bagus.
                
Jonghyun berlari menuju tangga darurat untuk mengejar Eunji. Senyumnya mengembang ketika melihat punggung Eunji.
                
“Kurasa kamu tidak sengaja menjatuhkan ini tadi, Eunji-ssi.”
                
Tangan Jonghyun yang memegang amplop terulur di depan Eunji. Eunji mengambil amplop itu dari tangan Jonghyun.
                
Deg.
                
Jari mereka bersentuhan.
                
Deg.
                
Dan waktu pun seakan berhenti di dunia Jonghyun dan Eunji.

               
-to be continued-

Kamis, 30 Mei 2013

Misojitda, Lee Minyoung!

Diposting oleh Rachma I. Lestari 3 komentar

Lee Jong-Hyun mempercepat laju mobil yang dikendarainya. Salah satu tangannya sibuk menelepon sebuah nama di hpnya berulang kali. Lee Min-Young, angkat telfonku. Bangunlah.
Lee Jong-Hyun tiba di depan apartemen Lee Min-Young. Udara dingin jam satu pagi segera menyergap sekujur tubuhnya. Tapi bukan itu yang membuat dingin sekujur tubuh Lee Jong-Hyun. Di pikirannya hanya satu. Yang dikhawatirkannya hanya satu. Lee Min-Young.
“Lee Min-Young! Minyoung-ah!”
Jong-Hyun tak hentinya menggedor-gedor pintu apartemen Min-Young.
Kenapa di saat seperti ini aku lupa kata sandi apartemennya? Aaargh.
Pintu di hadapan Jong-Hyun pun terbuka. Berdirilah perempuan yang sedari tadi dikhawatirkannya, menatapnya kebingungan.
“Ya, Jonghyun-ah. Jam berapa ini? Ada apa? Ah kau ini mengganggu orang tidur saja. Kau tahu, aku baru tidur jam…”
Belum sempat Minyoung menyelesaikan kalimatnya, Jonghyun memeluknya erat.
“Jonghyun-ah…Ada apa? Kau kenapa?”
“Minyoung-ah…”
“Ada apa? Kau membuatku takut.”
“Taeho hyung…”
Suara Jonghyun bergetar.
“Taeho hyung…”
Hanya nama Tae-Ho yang keluar dari mulut Jonghyun. Minyoung berusaha menggabungkan potongan-potongan gambar di hadapannya saat ini. Minyoung berharap ini adalah bagian dari mimpinya hari ini. Jonghyun tidak sedang memeluknya, tapi ini hanyalah efek dia memeluk boneka teddy bear kesayangannya. Ini mimpi bukan? Namun semakin Minyoung menyangkalnya, dadanya semakin terasa sesak dan akhirnya dia menumpahkan tangisnya di pelukan Jonghyun.
“Op…oppa…oppa…OPPAAAAAA!”

***

Sebulan berlalu semenjak meninggalnya Kim Taeho dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Sejak saat itu pula senyum Minyoung tak pernah lagi terlihat di wajahnya. Apa yang bisa kulakukan lagi jika memang semangatnya hanya ada di Taeho hyung?
Jonghyun menekan digit-digit password pintu apartemen Minyoung. Setiap sore sejak sebulan lalu, mengunjungi Minyoung menjadi rutinitas hariannya yang tak bisa ditinggalkan.
“Minyoung-ah? Kamu dimana?”
“Di sini,” jawabnya pelan. Sepertinya di kamar.
“Ayo makan.”
Minyoung menggeleng.
“Minyoung-ah. Sedikit saja. Aku membawa chajangmyeon, kesukaanmu.”
Text Box: *senyumMinyoung menggeleng, lagi.
“Minyoung-ah. Ayolah. Kau belum makan siang kan? Kulihat bubur yang kukirim tadi pagi pun hanya sedikit kau sentuh. Jika terus begini…”
“Pulanglah,” potong Minyoung.
Jonghyun terdiam.
“Mana bisa aku pulang dengan keadaanmu seperti ini?”
“Tidak ada yang menyuruhmu untuk merawatku. Tidak ada yang menyuruhmu untuk mengkhawatirkanku. Tidak ada yang menyuruhmu untuk peduli padaku. Pulanglah.”
“Sudah kewajibanku untuk merawatmu. Sudah kewajibanku untuk mengkhawatirkanmu. Sudah kewajibanku untuk peduli padamu.”
Minyoung, yang sebelumnya hanya menatap kosong selimutnya, kini menatap kedua mata Jonghyun.
“Bukan, itu bukan kewajibanmu. Itu kewajiban Taeho oppa.”
Jonghyun kembali terdiam mendengar jawaban Minyoung.
“Itu kewajibanku, Minyoung-ah. Sejak dulu, bahkan sebelum kamu bertemu dengan Taeho hyung. Aku yang selalu merawatmu. Aku yang selalu mengkhawatirkanmu. Aku yang selalu peduli padamu.”
“Pulanglah...”
“Kau dulu pernah bilang padaku, di saat kalian untuk pertama kalinya berkencan, senyum Taeho hyung adalah penyemangatmu.”
Minyoung mengangguk.
“Kau rela melakukan apapun untuk melihatnya tersenyum bukan?”
Minyoung mengangguk lagi.
“Itulah yang kini kulakukan.”
Jonghyun bangkit, mengecup kening Minyoung.
“Senyummu adalah penyemangatku.”
Minyoung tak mampu berkata apa-apa lagi saat melihat punggung Jonghyun pergi ke arah pintu kamarnya.
Sebelum menutup kembali pintu kamarnya, Jonghyun berkata, “Jangan senang dulu, besok aku akan kembali. Cepat makan chajangmyeonnya sebelum dingin. Oh ya, satu lagi. Jangan ganti password pintu apartemenmu, karena aku pasti akan mendobraknya. Kau tak ingin dimarahi tetangga dan pemilik apartemen ini bukan?”
Jonghyun tersenyum, lalu menutup pintu kamar Minyoung. Dan untuk pertama kalinya, Minyoung tersenyum.

“Babo,” ucapnya lirih seraya menghapus setetes air mata yang mengalir di pipinya.
 

YOUniverse Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei